SEORANG JANDA YANG KESEPIAN
CERITA DEWASA 18 + – saya ingin sekali bercerita Narasi Dewasa pengalaman hidup waktu laluku pada anda semua, kemungkinan berada di di antara anda yang bisa menyembuhkan perasaanku ini. Tapi tolong jangan terobsesi dengan ceritaku ini.
ini bermula saat di usiaku yang masih termasuk muda, 19 tahun, papaku saat itu menjodohkan saya dengan satu orang pemuda yang usianya 10 tahun lebih tua dari saya serta tuturnya masih ada jalinan saudara dengan keluarga mamaku.
Memang usiaku waktu itu cukup sudah untuk berumah tangga serta wajahku termasuk cukup, meskipun badanku kelihatan cukup gemuk kemungkinan orang menyebutku bahenol, tetapi kulitku putih, tidak seperti umumnya teman-temanku sebab memang saya dilahirkan di tengahnya keluarga yang berdarah Cina-Sunda, papaku Cina serta mamaku Sunda asli dari Bandung.
Hingga terkadang banyak pemuda-pemuda iseng yang coba merayuku. Serta banyak antara mereka yang katakan jika payudaraku besar serta padat berisi hingga banyak lelaki yang tetap memerhatikan buah dadaku ini saja. Ditambah lagi jika saya menggunakan kaos yang cukup ketat, tentu dadaku akan melambung tinggi serta mancung. Tapi sampai saya duduk di kelas 3 SMA saya belum juga mempunyai pacar serta belum juga kenal yang namanya cinta.
Sebetulnya dalam hatiku saya menampik untuk dijodohkan secepat ini, sebab sebenarnya saya sendiri masih ingin meneruskan sekolah sampai ke perguruan tinggi. Tetapi apa daya saya sendiri tidak bisa melawan kemauan papah serta memang keadaan ekonomi keluarga waktu itu tidak sangat mungkin untuk terus meneruskan sekolah sampai ke perguruan tinggi.
Sebab ke-3 orang adikku yang semua lelaki masih membutuhkan ongkos yang lumayan besar agar bisa terus bersekolah. Sesaat papah cuma kerja jadi pegawai swasta biasa. Karena itu dengan beberapa bujukkan dari keluarga khususnya mamaku saya mengalah untuk menyenangkan ke-2 orangtuaku.
Demikianlah sampai hari pernikahan datang, tidak ada beberapa hal serius yang menghambat jalannya pernikahanku ini dengan pemuda yang baru saya mengenal kurang dari dua bulan awalnya. Sepanjang proses perjumpaan kamipun tidak ada suatu hal yang serius yang kami bicarakan mengenai hari esok sebab sudah semua ditata awalnya oleh keluarga kedua pihak.
Karena itu saat-saat perjumpaan kami yang benar-benar singkat itu cuma berisi kunjungan-kunjungan teratur calon suamiku tiap malam minggu. Itu juga paling cuma satu atau dua jam saja serta umumnya saya ditemani papah atau mama mengobrol tentang kondisi keluarganya. Sesudah acara resepsi pernikahan usai seperti umumnya ke-2 pengantin yang berbahagia masuk kamar pengantin untuk melakukan kewajibannya.
Yang disebutkan malam pengantin atau malam pertama tidak berlangsung saat malam itu, sebab sesudah ada dalam kamar saya cuma diam serta tegang tidak paham apa yang perlu kulalukan. Maklum kemungkinan sebab masih begitu lugunya saya pada saat itu.
Suamiku pada saat itu juga rupanya belum begitu “mahir” dengan apa yang disebutkan jalinan suami istri, hingga malam pertama kami terlewat cukup dengan diraba-raba oleh suami. Itu juga terkadang saya tolak sebab pada saat itu saya sendiri sebetulnya merasakan risih diraba-raba oleh lelaki. Ditambah lagi oleh lelaki yang “belum” saya sayangi, sebab memang saya tidak menyukai suamiku. Pernikahan kami hanya atas perjodohan orangtua saja serta bukan atas kehendakku sendiri.
Baru saat malam ke-2 suamiku mulai lancarkan serangannya, dia mulai melepas bajuku satu demi satu serta mencumbu dengan menciumi kening sampai jari kaki. Mendapatkan serangan semacam itu tentunya jadi satu orang wanita yang telah masuk waktu pubertas akupun mulai bergairah meskipun tidak dengan cara langsung saya perlihatkan ke depan suamiku. Ditambah lagi waktu dia mulai sentuh beberapa bagian yang paling saya menjaga awalnya, kepalaku seperti tidak teratasi bergerak ke kanan ke kiri meredam nikmat sejuta rasa yang tidak pernah kurasakan awalnya.
Kemaluanku mulai keluarkan cairan serta sampai membasahi rambut yang tutupi vaginaku. Suamiku makin semangat menciumi puting susu yang berwarna merah muda kecoklatan serta terlihat bundar mengeras kemungkinan sebab saat itu saya juga telah mulai terangsang.
Saya tidak ingat berapakah kali dia menjilati klitorisku saat malam itu, sampai saya tidak dapat meredam enaknya permainan lidah suamiku menjilati klitoris serta saya juga orgasme dengan menyemburkan cairan hangat dari dalam vaginaku ke mulutnya.
Dengan perasaan tidak sabar, kubuka serta kuangkat lebar kakiku hingga akan kelihatan jelas oleh suamiku lubang vagina yang kemerahan serta basah ini. Atas keinginan suami kupegang batang kemaluannya yang besar serta keras mengagumkan menurutku pada saat itu.
Perlahan kutuntun kepala kemaluannya sentuh lubang vaginaku yang telah basah serta licin ini. Rasa nikmat yang mengagumkan kurasakan waktu kepala penis suamiku menggosoki bibir vaginaku ini. Dengan sedikit menggerakkan pantatnya suamiku sukses tembus keperawananku, diikuti rintihanku yang ketahan.
Untuk kali pertamanya vaginaku ini dimasuki oleh penis lelaki serta anehnya tidak berasa sakit seperti yang sering saya dengar dari teman-temanku yang baru menikah serta bercerita pengalaman malam pertama mereka.
Memang sedikit ada rasa sakit yang menyayat saat kepala penis itu mulai menyelinap perlahan-lahan masuk ke vaginaku ini, tapi kemungkinan sebab pada saat itu saya juga benar-benar bergairah sekali hingga saya tidak peduli dengan rasa sakitnya. Ditambah lagi waktu suamiku mulai menggosok-gosokkan batang penisnya itu di vaginaku, mataku terpejam serta kepalaku cuma menengadah ke atas, meredam rasa geli serta nikmat yang tidak bisa saya katakan di sini.
Sesaat ke-2 tanganku menggenggam pinggiran ranjang yang ada di atas kepalaku. Makin lama goyangan pinggul suamiku makin cepat diikuti dengan desahan nafasnya yang mengincar membuat nafsuku semakin menggebu. Kadang-kadang terdengar suara decak air atau becek dari lubang vaginaku yang sedang digesek-gesek dengan batang penis suamiku yang besar, yang membuatku makin cepat sampai orgasme yang ke-2.
Sesaat suami terus berpacu untuk sampai pucuk kenikmatannya, saya telah 2x orgasme dalam tempo yang tidak lama. Hingga kemudian suamiku juga meredam desahannya sekalian menyemburkan cairan yang hangat serta kental dari kepala penisnya di lubang vaginaku ini.
Terakhir baru saya tahu cairan itu yang disebutkan dengan sperma, maklum dahulu saya termasuk gadis yang kurang gaul jadi untuk beberapa hal atau beberapa istilah semacam itu saya tidak tahu. Cairan sperma suamiku juga mengalir keluar dari mulut vaginaku membasahi sprei serta bersatu dengan darah keperawananku. Kami berdua terkulai lemas, tetapi masih sempat tanganku meraba-raba bibir vagina untuk memberi kepuasan keinginan serta gairahku yang masih sisa. Dengan menggosoki klitoris yang masih basah, licin serta lembut oleh sperma suamiku, saya juga sampai orgasme untuk yang ke-3 kalinya.
Mengagumkan memang sensasi yang saya rasakan saat malam pengantin itu, serta hal seperti yang saya katakan di atas terus bersambung hampir tiap malam sepanjang beberapa waktu. Serta setiap saat kami mengerjakannya saya tetap merasakan belum pernah senang dengan suami yang cuma dapat mengerjakannya sekali.
Saya membutuhkannya lebih dari sekali serta tetap menginginkannya tiap hari. Entahlah apa yang sebetulnya berlangsung dalam diriku hingga saya tidak dapat membendung gejolak nafsuku. Walau sebenarnya sebelum saya menikah belum pernah kurasakan ini ditambah lagi sampai menginginkannya terus-terusan. Mungkinkah saya terhitung dalam kelompok yang namanya hypersex itu?
Sesudah 2 tahun kami menikah saya bercerai dengan suamiku, sebab makin hari suamiku makin jarang-jarang berada di rumah, sebab memang setiap harinya dia kerja jadi manager marketing dalam suatu perusahaan swasta hingga seringkali sekali dia keluar kota dengan fakta masalah kantor. Serta tidak lama terdengar berita jika dia mempunyai istri simpanan. Yang lebih menyakitkan hingga saya meminta diceraikan ialah istri simpanannya itu ialah sisa pacarnya yang dahulu, nyatanya sepanjang inilah juga menikah denganku sebab diminta oleh orang tuanya serta bukan lantaran rasa cinta.
Tidak ikhlas share suami dengan wanita lain, pada akhirnya saya sah diceraikan suamiku. Sakit memang hati ini seperti diiris-iris dengar pernyataan suami mengenai istri simpanannya itu, dengan terus jelas ia menjelaskan jika ia lebih menyukai istri simpanannya yang sebenarnya memang sisa pacarnya. Ditambah lagi tuturnya istri simpanan suamiku itu tetap bisa membuat dianya bahagia di atas ranjang, tidak seperti diriku ini yang tetap cuma meminta dipuaskan tapi tidak dapat memberi kepuasan kemauan suamiku, demikian tuturnya.
Lima tahun telah saya hidup menjanda, serta sekarang saya tinggal sendiri dengan mengontrak satu rumah di tepian kota Jakarta. Mujur saya mendapatkan pekerjaan yang cukup cukup dalam suatu perusahaan swasta hingga saya bisa menjaga diriku sendiri. Akhir-akhir ini tiap malam saya tidak bisa tidur dengan pulas, seringkali saya baru dapat tertidur nyenyak di atas jam 03.00 pagi. Kemungkinan karena pikiranku yang seringkali melantur akhir-akhir ini. Seringkali saya melamun serta memikirkan saat indah bersama dengan suamiku dahulu.
Kadang seringkali juga saya memikirkan diriku bermesraan dengan satu orang rekan kerjaku, hingga tiap malam cuma masturbasi saja yang bisa kulakukan. Tidak ada keberanian untuk bercerita ini pada orang lain ditambah lagi pada rekan-rekan kerjaku, bisa-bisa saya dikasih julukkan yang tidak baik di kantor. Cukup dengan tanganku ini kuelus-elus bibir vaginaku tiap malam sekalian memikirkan bercumbu dengan satu orang lelaki, kadang kumasukkan jari telunjukku supaya saya bisa lebih rasakan kesenangan yang pernah kualami dahulu.