TANTE DEWI MENGAJARKAN KU BERCOCOK TANAM DI PUNCAK
LEMBUR HASRAT 18+ – Peristiwa ini terjadi saat aku duduk di bangku SMP, aku juga gak tau kenapa untuk soal sex aku bisa mengikuti padahal umurku masih kecil, sampai aku bisa ngerasain sex itu nikmat, apa mungkin aku selalu disuguhkan dengan tubuh wanita terutama temannya mama, karena sering main ke rumahku dan merayu atau menggodaku dengan berbau sex, Tante Desi (biasa kupanggil dia begitu) orangnya cantik banget, langsing dan juga awet muda bikin aku bergetar.
Tante Desi ini tinggal dekat rumahku, hanya beda 5 rumahlah, nah Tante Desi ini cukup dekat sama keluargaku meskipun enggah ada hubungan saudara. Dan dapat dipastikan kalau sore biasanya banyak ibu-ibu suka ngumpu di rumahku buat sekadar ngobrol bahkan suka ngomogin suaminya sendiri. Nah Tante Desi inilah yang bikin aku cepet gede (maklumlah anak masih puber dan biasanya suka yang cepat-cepat).
Biasanya Tante Desi kalau ke rumah Aku selalu memakai daster atau kadang-kadang celana pendek yang bikin aku ser.. ser.. ser.. Biasanya kalau sudah sore tuh ibu-ibu suka ngumpul di ruang TV dan biasanya juga aku pura-pura nonton TV saja sambil lirak lirik.
Tante Desi ini entah sengaja atau nggak aku juga enggak tahu yah. Dia sering kalau duduk itu tuh mengangkang, kadang pahanya kebuka dikit bikin Aku ser.. ser lagi deh hmm.
Apa keasyikan ngobrolnya apa emang sengaja Aku juga enggak bisa ngerti, tapi yang pasti sih aku kadang puas banget sampai-sampai kebayang kalau lagi tidur. Kadang kalau sedang ngerumpi sampai ketawa sampai lupa kalau duduk nya Tante Desi ngangkang sampai-sampai celana dalemnya keliatan (wuih aku suka banget nih).
Pernah aku hampir ketahuan pas lagi ngelirik wah rasanya ada perasaan takut malu sampai-sampai Aku enggak bisa ngomong sampai panas dingin tapi Tante Desi malah diam saja malah dia tambahin lagi deh gaya duduknya.
Nah dari situ aku sudah mulai suka sama tuh Tante yang satu itu. Setiap hari pasti Aku melihat yang namanya paha sama celana dalem tuh Tante.
Pernah juga Aku waktu jalan-jalan bareng ibu-ibu ke puncak nginep di villa. Ibu-ibu hanya bawa anaknya, nah kebetulan Mami Aku ngsajak Aku pasti Tante Desi pula ikut wah asyik juga nih pikir ku. Waktu hari ke-2 malam-malam sekitar jam 8-9 mereka ngobrol di luar deket taman sambil bakar jagung.
Ternyata mereka sedang bercerita tentang hantu, ih dasar ibu-ibu masih juga kaya anak kecil ceritanya yang seram-seram, pas waktu itu Tante Desi mau ke WC tapi dia takut. Tentu saja Tante Desi di ketawain sama gengnya karena enggak berani ke WC sendiri karena di villa enggak ada orang jadinya takut sampai dia mau kencing di dekat pojokan taman.
Lalu Tante Desi menarik tangan Aku minta ditemenin ke WC, yah aku sih mau saja. Pergilah aku ke dalam villa sama Tante Desi, sesampainya Aku di dalam villa Aku nunggu di luar WC eh malah Tante Desi ngajak masuk nemenin dia soalnya katanya dia takut.
“Le temenin Tante yah tunggu di sini saja buka saja pintu nya enggak usah di tutup, Tante takut nih”, kata Tante Desi sambil mulai berjongkok.
Dia mulai menurunkan celana pendeknya sebatas betis dan juga celana dalamnya yang berwarna putih ada motif rendanya sebatas lutut juga.
“Serr.. rr.. serr.. psstt”, kalau enggak salah gitu deh bunyinya. Jantungku sampai deg-degan waktu liat Tante Desi kencing, dalam hatiku, kalau saja Tante Desi boleh ngasih liat terus boleh memegangnya hmm. Sampai-sampai aku bengong ngeliat Tante Desi.
“Heh kenapa kamu Le kok diam gitu awas nanti kesambet” kata Tante Desi.
“Ah enggak apa-apa Tante”, jawabku.
“Pasti kamu lagi mikir yang enggak-enggak yah, kok melihatnya ke bawah terus sih?”, tanya Tante Desi.
“Enggak kok Tante, aku hanya belum pernah liat cewek kencing dan kaya apa sih bentuk itunya cewek?” tanyaku.
Tante Desi cebok dan bangun tanpa menaikkan celana sama CDnya.
“Kamu mau liat le? Nih Tante kasih liat tapi jangan bilang-bilang yah nanti Tante enggak enak sama Mamamu”, kata Tante Desi.
Aku hanya mengangguk mengiyakan saja. Lalu tanganku dipegang ke arah vaginanya. Aku tambah deg-degan sampai panas dingin karena baru kali ini Aku megang sama melihat yang namanya memek. Tante Desi membiarkanku memegang-megang vaginanya.
“Sudah yah Le nanti enggak enak sama ibu-ibu yang lain dikirain kita ngapain lagi”.
“Iyah Tante”, jawabku.
Lalu Tante Desi menaikan celana dalam juga celana pendeknya terus kami gabung lagi sama ibu-ibu yang lain.
Esoknya aku masih belum bisa melupakan hal semalam sampai sampai aku panas dingin. Hari ini semua pengen pergi jalan-jalan dari pagi sampai sore buat belanja oleh-oleh rekreasi. Tapi aku enggak ikut karena badanku enggak enak.
“Le, kamu enggak ikut?” tanya mamiku.
“Enggak yah Mam aku enggak enak badan nih tapi aku minta di bawain kue mochi saja yah Mah” kataku.
“Yah sudah istirahat yah jangan main-main lagi” kata Mami.
“Desi, kamu mau kan tolong jagain si Ale nih yah, nanti kalau kamu ada pesenan yang mau di beli biar sini aku beliin” kata Mami pada Tante Desi.
“Iya deh Kak aku jagain si Ale tapi beliin aku tales sama sayuran yah, aku mau bawa itu buat pulang besok” kata Tante Desi.
Akhirnya mereka semua pergi, hanya tinggal aku dan Tante Desi berdua saja di villa, Tante Desi baik juga sampai-sampai aku di bikinin bubur buat sarapan, jam menunjukan pukul 9 pagi waktu itu.
“Kamu sakit apa sih Le? kok lemes gitu?” tanya Tante Desi sambil nyuapin aku dengan bubur ayam buatannya. “Enggak tahu nih Tante kepalaku juga pusing sama panas dingin aja nih yang di rasa” kataku.
Tante Desi begitu perhatian padaku, maklumlah di usia perkawinannya yang sudah 5 tahun dia belum dikaruniai seorang buah hati pun.
“Kepala yang mana Le atas apa yang bawah?” kelakar Tante Desi padaku.
Aku pun bingung, “Memangya kepala yang bawah ada Tante? kan kepala kita hanya satu?” jawabku polos.
“Itu tuh yang itu yang kamu sering tutupin pake segitiga pengaman” kata Tante Desi sambil memegang si kecilku.
“Ah Tante bisa saja” kataku.
“Eh jangan-jangan kamu sakit gara-gara semalam yah” aku hanya diam saja.
Selesai sarapan badanku dibasuh air hangat oleh Tante Desi, pada waktu dia ingin membuka celanaku, kubilang, “Tante enggak usah deh Tante biar Ale saja yang ngelap, kan malu sama Tante”
“Enggak apa-apa, tanggung kok” kata Tante Desi sambil menurunkan celanaku dan CDku.
Dilapnya si kecilku dengan hati-hati, aku hanya diam saja.
“Le mau enggak pusingnya hilang? Biar Tante obatin yah”
“Pakai apa Tan, aku enggak tahu obatnya” kataku polos.
“Iyah kamu tenang saja yah” kata Tante Desi.
Lalu di genggamnya batang penisku dan dielusnya langsung spontan saat itu juga penisku berdiri tegak. Dikocoknya pelan-pelan tapi pasti sampai-sampai aku melayang karena baru pertama kali merasakan yang seperti ini.
“Achh.. cchh..” aku hanya mendesah pelan dan tanpa kusadari tanganku memegang vagina Tante Desi yang masih di balut dengan celana pendek dan CD tapi Tante Desi hanya diam saja sambil tertawa kecil terus masih melakukan kocokannya. Sekitar 10 menit kemudian aku merasakan mau kencing.
“Tante sudah dulu yah aku mau kencing nih” kataku.
“Sudah, kencingnya di mulut Tante saja yah enggak apa-apa kok” kata Tante Desi.
Aku bingung campur heran melihat penisku dikulum dalam mulut Tante Desi karena Tante Desi tahu aku sudah mau keluar dan aku hanya bisa diam karena merasakan enaknya.
“Hhgg..achh.. Tante aku mau kencing nih bener” kataku sambil meremas vagina Tante Desi yang kurasakan berdenyut-denyut.
Tante Desi pun langsung menghisap dengan agresifnya dan badanku pun mengejang keras.
“Croott.. ser.. err.. srett..” muncratlah air maniku dalam mulut Tante Desi, Tante Desi pun langsung menyedot sambil menelan maniku sambil menjilatnya. Dan kurasakan vagina Tante Desi berdenyut kencang sampai-sampai aku merasakan celana Tante Desi lembab dan agak basah.
“Enak kan Le, pusingnya pasti hilang kan?” kata Tante Desi.
“Tapi Tante aku minta maaf yah aku enggak enak sama Tante nih soalnya Tante..”
“Sudah enggak apa-apa kok, oh iya kencing kamu kok kental banget, wangi lagi, kamu enggak pernah ngocok Le?”
“Enggak Tante”
Tanpa kusadari tanganku masih memegang vagina Tante Desi.
“Loh tangan kamu kenapa kok di situ terus sih”. Aku jadi salah tingkah
“Sudah enggak apa-apa kok, Tante ngerti” katanya padaku.
“Tante boleh enggak Ale megang itu Tante lagi” pintaku pada Tante Desi.
Tante Desi pun melepaskan celana pendeknya, kulihat celana dalam Tante Desi basah entah kenapa.
“Tante kencing yah?” tanyaku.
“Enggak ini namanya Tante nafsu Le sampai-sampai celana dalam Tante basah”.
Dilepaskannya pula celana dalam Tante Desi dan mengelap vaginanya dengan handukku. Lalu Tante Desi duduk di sampingku
“Le pegang nih enggak apa-apa kok sudah Tante lap” katanya. Akupun mulai memegang vagina Tante Desi dengan tangan yang agak gemetar, Tante Desi hanya ketawa kecil.
“Le, kenapa? Biasa saja donk kok gemetar kaya gitu sih” kata Tante Desi.
Dia mulai memegang penisku lagi, “Le Tante mau itu nih”.
“Mau apa Tante?”
“Itu tuh”, aku bingung atas permintaan Tante Desi.
“Hmm itu tuh, punya kamu di masukin ke dalam itunya Tante kamu mau kan?”
“Tapi Ale enggak bisa Tante caranya”
“Sudah, kamu diam saja biar Tante yang ajarin kamu yah” kata Tante Desi padaku.
Mulailah tangannya mengelus penisku biar bangun kembali tapi aku juga enggak tinggal diam aku coba mengelus-elus vagina Tante Desi yang di tumbuhi bulu halus.
“Le jilatin donk punya Tante yah” katanya.
“Bibi Ale tidak bisa melakukannya, aku akan muntah lagi nanti”
“Coba saja Le”
Tante pun langsung mengambil posisi 69. Aku di bawah, Tante Desi di atas dan tanpa pikir panjang Tante Desi pun mulai mengulum penisku.
“Ahhh… hgghhhh… Tante”
Aku pun sebenarnya ada rasa geli tapi ketika kucium vagina Tante Desi tidak berbau apa-apa. Aku mau juga menjilatinya kurang lebih baunya vagina Tante Desi seperti wangi daun pandan (asli aku juga bingung kok bisa gitu yah) aku mulai menjilati vagina Tante Desi sambil tanganku melepaskan kaus u can see Tante Desi dan juga melepaskan kaitan BH-nya, kini kami sama-sama telanjang bulat.
Tante Desi pun masih asyik mengulum penisku yang masih layu kemudian Tante Desi menghentikannya dan berbalik menghadapku langsung mencium bibirku dengan nafas yang penuh nafsu dan menderu.
“Kamu tahu enggak mandi kucing Le” kata Tante Desi.
Aku hanya menggelengkan kepala dan Tante Desi pun langsung menjilati leherku menciuminya sampai-sampai aku menggelinjang hebat, ciumannya berlanjut sampai ke putingku, dikulumnya di jilatnya, lalu ke perutku, terus turun ke selangkanganku dan penisku pun mulai bereaksi mengeras.
Dijilatinya paha sebelah dalamku dan aku hanya menggelinjang hebat karena di bagian ini aku tak kuasa menahan rasa geli campur kenikmatan yang begitu dahsyat. Tante Desi pun langsung menjilati penisku tanpa mengulumnya seperti tadi dia menghisap-hisap bijiku dan juga terus sampai-sampai lubang pantatku pun dijilatinya sampai aku merasakan anusku basah.
Kulihat payudara Tante Desi mengeras, Tante Desi menjilati sampai ke betisku dan kembali ke bibirku dikulumnya sambil tangannya mengocok penisku, tanganku pun meremas payudara Tante Desi. Entah mengapa aku jadi ingin menjilati vagina Tante Desi, langsung Tante Desi kubaringkan dan aku bangun, langsung kujilati vagina Tante Desi seperti menjilati es krim.
“Achh.. uhh.. hhghh.. acch Le enak banget terus Le, yang itu isep jilatin Le” kata Tante Desi sambil menunjuk sesuatu yang menonjol di atas bibir vaginanya.
Aku langsung menjilatinya dan menghisapnya, banyak sekali lendir yang keluar dari vagina Tante Desi tanpa sengaja tertelan olehku.
“Le, masuklah, Bibi, aku tidak tahan.”
“Tante gimana caranya?”
Tante Desi pun menyuruhku tidur dan dia jongkok di atas penisku dan langsung menancapkannya ke dalam vaginanya. Tante Desi naik turun seperti orang naik kuda kadang melakukan gerakan maju mundur. Setengah jam kami bergumul dan Tante Desi pun mengejang hebat.
“Le Tante mau keluar nih eghh.. huhh achh” erang Tante Desi.
Akupun di suruhnya untuk menaik turunkan pantatku dan tak lama kurasakan ada sesuatu yang hangat mengalir dari dalam vagina Tante Desi. Hmm sungguh pengalaman pertamaku dan juga kurasakan vagina Tante Desi mungurut-urut penisku dan juga menyedotnya.
Kurasakan Tante Desi sudah orgasme dan permainan kami terhenti sejenak. Tante Desi tidak mencabut penisku dan membiarkanya di dalam vaginanya.
“Le nanti kalau mau kencing kaya tadi bilang ya” pinta Tante Desi padaku.
Akupun langsung mengiyakan tanpa mengetahui maksudnya dan Tante Desi pun langsung mengocok penisku dengan vaginanya dengan posisi yang seperti tadi.
“Achh.. Tante enak banget achh.., gfggfgfg..” kataku dan tak lama aku pun merasakan hal yang seperti tadi lagi.
“Tante Ale kayanya mau kencing niih”
Tante Desi pun langsung bangun dan mengulum penisku yang masih lengket dengan cairan kewanitaanya, tanpa malu dia menghisapnya dan tak lama menyemburlah cairan maniku untuk yang ke 2 kalinya dan seperti yang pertama Tante Desi pun menelannya dan menghisap ujung kepala penisku untuk menyedot habis maniku dan akupun langsung lemas tapi disertai kenikmatan yang alang kepalang.
Kami pun langsung mandi ke kamar mandi berdua dengan telanjang bulat dan kami melakukannya lagi di kamar mandi dengan posisi Tante Desi menungging di pinggir bak mandi. Aku melakukannya dengan cermat atas arahan Tante Desi yang hebat. Selasai itu jam pun menunjukan pukul 1 siang langsung makan siang dengan telur dadar buatan Tante Desi, setelah itu kamipun capai sekali sampai-sampai tertidur dengan Tante Desi di sampingku, tapi tanganku kuselipkan di dalam celana dalam Tante Desi. Kami terbangun pada pukul 3 sore dan sekali lagi kami melakukannya atas permintaan Tante Desi, tepat jam 4:30 kami mengakhiri dan kembali mandi, dan rombongan ibu-ibu pun pulang pukul 6 sore.
“Le kamu sudah baikan?” tanya Mamiku.
“Sudah mam, aku sudah seger n fit nih” kataku.
“Kamu kasih makan apa Ni, si Ale sampai-sampai langsung sehat” tanya Mami sama Tante Desi.
“Hanya bubur ayam sama makan siang telur dadar terus kukasih saja obat anti panas” kata Tante Desi.
Esoknya kamipun pulang ke jakarta dan di mobil pun aku duduk di samping Tante Desi yang semobil denganku. Mami yang menyopir ditemani Ibu Herman di depan. Di dalam mobilpun aku masih mencuri-curi memegang barangnya Tante Desi.
Sampai sekarang pun aku masih suka melakukannya dengan Tante Desi bila rumahku kosong atau terkadang ke hotel dengan Tante Desi. Sekali waktu aku pernah mengeluarkan spermaku di dalam sampai 3 kali.
Kini Tante Desi sudah dikarunia 2 orang anak yang cantik. Baru kuketahui bahwa suami Tante Desi ternyata menagalami ejakulasi dini. Sebenarnya kini aku bingung akan status anak Tante Desi.
Yah, begitulah kisahku sampai sekarang aku tetap menjadi PIL Tante Desi bahkan aku jadi lebih suka dengan wanita yang lebih tua dariku. Pernah juga aku menemani seorang kenalan Tante Desi yang nasibnya sama seperti Tante Desi, mempunyai suami yang ejakulasi dini dan suka daun muda buat obat awet muda, dengan menelan air mani pria muda.